Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts

Monday, June 01, 2009

Surviving China -- Part 1


Sebetulnya perjalanan ke China belum ada dalam rencana jalan-jalan tahun ini, tapi entah kenapa, rencana yang tadinya Ke Spanyol dan Portugis berubah menjadi China.

Rute jalan-jalan ku kali ini cukup panjang, yaitu Ampenan – Bali – Kuala Lumpur – Shenzhen – Xian – Beijing – Shanghai – Hongkong – Macau – Kuala Lumpur – Singapore – Bintan – Jakarta

Here are the stories:

Bali dan KL
Perjalanan diawali pagi hari dengan Trigana flight ke Bali, transit cukup lama juga karena pesawat Air Asia ke Kuala Lumpur yang aku ambil adalah yang jam 15.00, cukup lama, but I managed to kill my time at the Ngurah Rai airport by reading all the travel books and eating alot at the many airport restaurants.

Aku tiba di KL malam hari, dan langsung naik shuttle bus (1 RM) untuk seterusnya nginep di Tune hotel. Jaraknya sih cukup dekat dari LCCT terminal, but karena malas geret2 tas, so aku naik itu hotel shuttle yang cuma berongkoskan 1 RM sajah. Oh iya, my back is too weak for backpack, so aku bawa itu backpack yang ada rodanya hihihi...biar gak pegel punggung!

Tune hotel really is a transit hotel, kamarnya sempit dan cukup buat tidur doang, but it is clean enough lah...Cuma, hotelnya berisikkkk!! Mungkin karena pinggir jalan dan people keluyuran di dini hari/malam hari (mungkin mau check out untuk kejar pesawat yang dini hari ngkalee)…anyway, as a transit hotel yang buat tidur doang dan mandi, cukup lah lumayan

Shenzhen
Pesawat Air Asia ku ke Shenzhen adalah jam 6.20 pagi, masih pagi buta aku dah check out dari hotel, dan shalat subuh di hotel jam 5 pagi mengikuti waktu shalat Mataram …later I found out that subuh di Malaysia itu mulainya jam 6 pagi…halah, gak papa lah…sing penting niat shalat subuh

Saat check in di antrian, everybody speak Chinese already…well, karena mereka emang mau balik ke kampong halamannya di Shenzhen.. ya iyalahh

Perjalanan Air Asia ke Shenzhen lumayan lancar, saat mau tiba di Bao’an International Airport Shenzhen, pramugarinya menyemprotkan disinfektan di dalam kabin, karena saat itu emang lagi santernya bahaya flu babi. At that point, belum ada laporan sih bahwa flu babi udah menyebar ke Malaysia dan China

Tiba di Shenzhen, sempat bingung karena kok arrival hall nya kecil banget, setelah bolak balik…eh ternyata, harus sedikit menyebrang ke terminal utama. Saat itu niatnya adalah langsung cari tiket pesawat ke Xian dan sekalian tuker duit ke Yuan.

Tidak sulit untuk nyari foreign exchange di terminal itu, karena banyak bank ada di lantai 2 terminal utama. Dan gak sulit juga nyari tiket pesawat untuk ke Xian, yang sulit adalah not everybody can speak English!!!

Akhirnya dapat tiket China Southern airlines untuk ke Xian tanggal 30 April, ongkosnya lebih murah dari yang aku perkirakan, sekitar 1160RMB.


Chinese folk culture park
The challenging part begin….kan mau nyari bis ke downtown nih, trus ask direction, aku ke bagian informasi toh…but di depan counter, none of them can speak English!! Mereka harus panggil beberapa temannya yang bisa ngerti beberapa kata-kata Inggris, so menemukan bis yang ke arah Window of the World (coz that’s where my hostel located), butuh beberapa kali gambar, tanya dan lots of laugh! After struggling with information, finaly dapat juga info soal bis….dan cuma bayar 5RMB untuk nyampe ke downtown!!! Whoaaaa murah abis!!! Bangga deh aku bisa nyampe dengan biaya yang super duper murah, by the way 1RMB = Rp1400-an


Hostel yang udah ku booking terletak di daerah Qiao Cheng Dong, kalo naik metro, turunnya di station Qiao Cheng Dong exit A. It was nice international youth hostel, clean and deket ama supermarket dan lagi receptionistnya speak very well English…so amannnnn…Alhamdullilah deh, hostel ini berjendela besar dan bersih, so I have no problem breathing hehehe




**Next post is about Xi'an, Beijing and Shanghai

Surviving China -- Part 2

The story continued...

Xi’an
Orang di Shenzhen hostel bilang, bis ke airport itu nomer 27 dan nunggunya di halte Konka depan jalan, but after nunggu hampir 30 menit kok gak dateng2, akhirnya aku memutuskan untuk naik taxi sajah ke airport, daripada ketinggalan pesawat yang ke Xi’an!! Another challenge is to explain where I wanna go to the taxi driver, he can’t speak English!! So I use my sign language to communicate with the taxi drive…and thanked God, he finally understand me!!

My plane to Xi'an - China Southern Airlines

The flight to Xian was a little bit delay, because the run way is busy, the air traffic controller put the plane in queue, so we were 20 minutes late to arrive in Xian.

When I arrived at Xian airport, I then tried to find a bus to downtown Xi’an. Sebetulnya itu bis udah nangkring depan ku, tapi ketika ku tanya drivernya dia cuma geleng-geleng kepala ajah…untung ada cewek petugas bisnya yang nanya tujuan ku, dan kubilang aku mau ke Bell Tower, dan si cewek menjelaskan kalo bis yang dari tadi nongkrong di depan ku itu emang tujuannya ke Bell Tower…..ahhhh dasar sopir o’on!!!

Xi’an is a historic city. Loe bisa liat old building berada diantara bangunan2 modern, diantara KFC or McDonnald stand. Xi’an sendiri memiliki sejarah yang lebih tua dari China, karena ternyata Xi’an itu pernah menjadi ibukota negara dari beberapa dinasti yang ada di China…Katanya ada 16 Dinasti di China. Di Xi’an itu ada tembok yang mengelilingi kotanya, temboknya cukup luasss buat jalan-jalan di atasnya dan around the area you can see the bell tower and drum tower, semuanya berdekatan…so if you wanna rent a bike, go a head!


Yang terpenting dari perjalanan aku ke Xi’an adalah, gampang cari makanan!!! Karena tak jauh dari bell tower (dari hostel ku juga), ada yang namanya muslim street yang cukup terkenal, semua makanan di situ tentu saja halal, dan banyak camilan yang enak-enak!

Cuaca di Xi’an dingin saat itu, butuh jaket deh pokoknya, I think it’s around 20 C, berbeda banyak dengan Shenzhen dan kota China lainnya.

The highlight of my trip to Xi’an tentu saja ketika berkunjung ke Terracota Warrior museum, such an amazing discovery. Sempat aku berpikir dalam hati, gileee itu kaisar, nyuruh bikin patung tanah liat 7000an buat jagain dia waktu dia mati….Masya Alloh, sempat geleng-geleng kepala gak percaya, karena selain berupa patung tanah liat, si patung juga dilengkapi dengan persenjataan beneran…busur panah beneran, tombak beneran… amazing deh pokoknya! By the way kaisarnya dari Dynasty Qin (kalo gak salah inget, dinasti pertama China)

Beijing
Tujuan berikutnya adalah kota Beijing, aku pake kereta dari Xi'an ke Beijing...mau nyoba naik kereta China. Karena saat itu lagi liburan orang China (May labor day holiday/weekend), so tiket kereta yang tersisa adalah yang soft sleeper class seharga 400RMB. Ada 2 jenis kelas, yang soft sleeper dan hard sleeper beda keduanya kalo soft sleeper, 1 compartment itu ada 4 tempat tidur kalo yang hard sleeper ada 6 tempat tidur.

Beruntung banget di compartment kereta ku isinya 4 cewek semua, so agak bebas lah gak perlu pake kudung-kudungan.

Oh iya, lupa….selama perjalananku di China mulai dai Shenzhen sampai sekarang, di setiap tempat, people staring at me a lot, di metro, di bis, di jalan….semuanya pada melihat aku dari ujung kaki ke ujung rambut, aneh kali yaaa liat ada orang berkudung….(this exclude Xi’an yang udah biasa liat orang berkudung karena banyak banget berkeliaran di muslim quarter/muslim street)

Soft class sleeper train to Beijing
Di kereta ketemu teman baru, anak SMA yang pintar berbahasa Inggris (akhirnya ada juga yang bisa diajak ngobro!) Ternyata dia emang nyiapin diri buat bisa kuliah di Amerika, so her English is pretty good….dan emang rejeki, saat tiba di station Beijing West yang segede alaihim itu, sumpah gede banget itu station kereta!!! bapak si cewek itu jemput, so aku bisa nebeng nyampe ke hostel….alhamdullilah deh ada yang nolongin!

Hostel tempat ku nginap di Beijing deket ama Beijing Zhan (or Beijing train station), after do the laundry dan bersih-bersih, langsung aku ke station kereta itu untuk cari tiket kereta ke Shanghai. Eng…ing…eng…the biggest challenge of my trip, harus beli tiket kereta yang first class alias soft sleeper! Karena di counter yang bisa berbahasa Inggriss (buat turis-turis gitu), selalu ditawarin yang soft sleeper which is sekitar 700RMB, dan mereka gak mau jual yang hard sleeper ke para turis…sempat sedih dan down, karena kalo menurut catetan panduan yang kubawa dari Indonesia, tiketnya gak semahal itu dan kalo beli hard sleeper jauh-jauh hari masih ada tersedia tempat….masa’ mau give up so easy, pikirku..

Di tengah kebetean (cieee), ehhh muncul dewi penolong, seorang cewek (kayaknya anak kuliahan) yang tanya-tanya aku mau kemana dan gimana, trus setengah curhat dan minta tolong, aku tanya dia kok gak ada yang hard sleeper lagi tersedia…dan dia nunjukin kalo aku harus ke counter umum di loket 63. Tanpa pikir panjang aku ikut ngantri di loket 63, ternyata itu cewek ngikutin aku untuk ngantri…bener aja, ketika giliran aku, dan aku ngomong bahasa Inggris tentang tujuan ku, si penjaga loket dengan judesnya menolak permohonan aku….akhirnya aku minta tolong lagi ke itu cewek buat terjemahin dan sekalian beliin aku tiket
Alhamdullilah, aku dapat tiketnya, hard sleeper class seharga 317RMB dari Beijing ke Shanghai 3 hari lagi….yipppeeeeee!!! pokoknya sejuta tengkiu deh diucapkan untuk dewi penolong itu (too bad, I couldn’t get her name)

The highlite of my trip to Beijing tentu saja ketika ke Great Wall China, aku ngambil rute lewat Mutianyu. Tadinya mau jalan sendiri, karena ada bis wisata yang langsung ke sana, tapi ternyata hanya di hari weekend sajah…so akhirnya aku ikut tour ajah deh, murah juga dan gak bikin pusing kepala! Another great trip to the wall…Mutianyu gak terlalu ramai oleh turis, so menyenangkan dan viewnya juga bagus!



** Next post is about Shanghai, Hongkong and Macau

Surviving China -- Part 3

Part 3 continued

Shanghai
Kereta malam dari Beijing, tiba di Shanghai jam 12.59. Station kereta di Shanghai sama gedenya dengan station Beijing Zhan. Seperti sebelumnya, aku langsung cari tiket kereta yang ke Hongkong (Jiulong in Chinese), somehow di Shanghai gak sesulit waktu di Beijing, dan akupun langsung dapat tiket hard sleeper ke Hongkong dengan harga 412RMB (I'm at second level for my hard sleeper class, not bad, comfortable with pillow and quilt).


Di Shanghai lebih banyak orang bisa berbahasa Inggris, mungkin karena banyak banget expatriate yang kerja di tempat ini. Pusat kota Shanghai itu ada di the Bund, typical kota metropolitan pada umumnya...lots of shopping mall dan juga padat banget, and aku sempat ke Madame Tussaud Shanghai yang letaknya ada di seputaran the Bund.

Shanghai lebih mirip Jakarta, lebih banyak shopping mall dan juga bule berkeliaran. Daerah di French Concension serasa ada di jalanan Paris...sepi, tertib dan teratur, bis dan metro cukup murah dan nyaman.

Sedikit di luar kota Shanghai, naik metro line 9, aku maen ke old town called Qibao. Bener2 kota tua, bangunan tua trus ada canal kiri kanan, dan banyak toko suvenir khas China. Dan akses kemana-mana gampang, either bis or metro.

Hongkong – Macau
By the time the train from Shanghai reached Kowloon station in Hongkong, aku teriak kegirangan....yipeeeee, terjelajah juga China!!! Ternyata I survived China, merasa lebih lega karena China gitu lohhh….kalo di Hongkong mah, banyak orang Indo (TKI) dan biasa ajah, tapi surviving mainland China…that was amazing!!

Nyampe di Hongkong, langsung dong ngukur jalan, target jelajah siang itu adalah daerah Nathan Road, dan Hongkong kota (Avenue of the star, the harbour etc)

Hari berikutnya, dengan bis aku nyampe ke big Budha, dan balik lagi ke Hongkong untuk lanjut ke the Peak, and tentu sajah ke night market dan jade market….sedikit shopping dan cuci mata di mall-mall Hongkong…ternyata menurut aku sama aja ahh barang2nya sama yang ada di Jakarta…jadi heran, kalo orang-orang Indo kok bangga banget bisa shopping di Hongkong…padahal biasa aja tuh!

Hari terakhir sebelum ke KL malam harinya, aku ambil day trip ke Macau. Perjalanan naik ferry back and forth memakan waktu 2 jam pulang dan pergi. ferrynya cukup nyaman, mirip lah dengan ferry Tenggara 1 nya Nyumont.

Dari ferry ke pusat kota cukup murah dengan bis, hanya seharga 3.40 Patacca. Belanja di Macau cukup murah, dibandingkan di Hongkong. Seluruh kota bisa dijelajah dengan muter2 pake bis yang berkeliaran di setiap rute dengan mudahnya.

It was very refreshing and cheap trip to Macau!

Sore hari dari Macau, setelah ambil backpack yang dititipkan di hotel, aku langsung ke Hongkong International Airport yang segede alaihim….ini airport gede banget, dari tempat check in ke gatenya aja butuh waktu 40 menit melewati tangga, dan train…sumpah!! Gede banget…



Akhirnya flight Air Asia dari Hongkong (yang delay 1 jam di Hongkong), nyampe juga di Kuala Lumpur….sebetulnya aku malessss banget nginjek nih negara, tetapi berhubung harus menemui seseorang di KL dan harus touring bareng dia ke KL dan Singapore…. yaaa terpaksa mampir lagi ke sini.

Travel di KL dan Singapore gak menarik buat diceritakan, karena basically sama lah ama cerita perjalanan dulu...

So kesimpulan dari petualangan China ku:


  • Berasa jadi selebritis! Karena di metro, di bis, di toko, di restoran....semua orang pada melirik dan ngeliat dari mata kaki ke ujung rambut, luar biasa deh feeling seperti selebrity.
  • Banyak ketawanya! Terutama kalo pas nanya sesorang dan dia gak bisa ngomong Inggris dan hanya bisa garuk-garuk kepala....lucu banget, yet challenging buat bikin dia ngerti apa mau kita
  • Susah cari makan!!! Tapi kok bukannya kurus, malah gembul...mungkin faktor minum susu made in China ngkalee
  • Nyeseeelllll banget gak beli gelang jade! Hanya karena aku tinggal si credit card di safe deposit hostel!! how silly was that!! Duoduol...
  • Bener-bener uji nyali......
  • Thinking maybe I’ll go again to China someday, soalnya trip to China is MURAH!! If you go like a local, I mean using the metro/subway, the bus and eat local food (I managed to find a halal Chinese food in Beijing at Wangfujing street and in Shanghai, it is closed to Yishan metro station Shanghai, it served home made noodle), it will… sumpah, murah!!!

Friday, October 31, 2008

Vienna, Tante Margeet dan Verken

Perjalanan dari Amsterdam Sloterdijk (terminal bis Amsterdam) ke Wenen (Vienna Austria) di Musim semi saat itu, ditempuh dalam waktu 7 jam. Teman seperjalanan ku kebanyakan adalah pasangan suami istri yang akan menghabiskan harinya untuk nonton konser music classic di Vienna (or Wenen in Dutch language), kursi di sebelah ku ditempati oleh Tante Margeet, seorang wanita berusia kira-kira 65 tahun yang pernah tinggal di Indonesia saat perang kemerdekaan, dia bersuamikan seorang Batak yang telah almarhum dan telah meninggalkan Indonesia sejak tahun 70-an.


Tante Margeet masih pintar berbahasa Indonesia (dengan logat Belandanya), dan dialah satu-satunya orang yang ku ajak ngobrol sepanjang perjalanan dari Amsterdam ke Austria, bahasa Indonesia yang sangat baku dan sedikic berlogac Belanda.

Highway yang menghubungkan antar negara ini segitu lebarnya, tidak ada kewajiban untuk berenti bayar tol karena emang menggunakan jalan tol ini gratis, infrastructure penghubung antar negara sangat bisa diandalkan, sehingga perjalanan dengan bus ini berjalan dengan nyaman…

Pengemudi bus ini bernaman Wim, seorang Suriname yang pintar juga berbahasa Inggris, so walaupun kebanyakan orang berbahasa yang aku gak ngerti, at least ada Wim dan Tante Margeet yang bisa memahami keinginan aku (penting nih, terutama saat pesan makanan…untuk memastikan aku itu dipesenin yang vegetarian aja dan tidak makan hewan berkaki pendek –istilahnya Tante Margeet alias babi)

Kami tiba di hotel HelenenStrüberl di Mayerling, hotel ini terletak di lembah Helenen dan sekitar 20 menit dari city center Vienna. Di sekitaran hotel yang ada adalah lembah dan bukit, mengingatkan aku pada film Sound of Music yang memang mengambil lokasi di pegunungan Austria.


Seperti dalam rencana, para bapak dan ibu itu langsung ke Vienna nonton konser music classic, aku memilih untuk stay di hotel dan menikmati daerah sekitar aja….scara kita mah anak muda yaa,mending ngider aja kaleee

Sebetulnya aku sempat nyesel and bete waktu naik bis ini, soalnya gak fun aja getho bareng oma dan opa, sampe bela-belain nyari info kereta yang bisa bawa aku pulang ke Amsterdam, dan Mayerling itu di perbukitan dan butuh berjuang untuk bisa ke kota dan nyari kereta cepat ke Amsterdam (when I said butuh perjuangan, it was really butuh perjuangan) karena emang bis aja cuma mampir sekali sehari, saat baru tiba bete banget….tapi ketika liat perbukitan yang hijau dan keren banget, otomatis hilang itu bete, nyang ada malahan nyari cara gimana untuk bisa hiking ke sana….hehe

Disamping letak hotel yang di perbukitan, ternyata kota Vienna sendiri menawarkan begitu banyak keindahan, bahkan malah kota ini kota paling ku suka dari beberapa Negara di Eropa yang ku datengin. I don’t know why, mungkin karena suasana kota Vienna sendiri, kemudian perbukitan Helenen di Mayerling yang indah....ahhh, pokoknya aku akhirnya jatuh cinta deh!

Aku sempatkan tour keliling kota Vienna, ke istana Belvedere yang terkenal, kemudian sempat mampir ke exhibisi foto art di tengah kota dan juga muter-muter gang and alley di seputaran kota ini.

Dan tak lupa mampir ke winery di daerah yang gue lupa namanya, sebuah desa kecil yang rapi dan teratur khas negara Eropa, bangunan tua dan kota yang rapi dan bersih, mampir di restoran desa ini untuk segelas rice wine (aku sih memilih sparkling water alias air soda tanpa rasa) dan steak babi atau steak ayam yaikssss…

Emang rada-rada susah nyari makan di tempat ini, semua mengandung verken alias babi, solusinya aku cuma jadi vegetarian dan nyabu saja (nyayur dan buah), walhasil pulang dari liburan bukannya gendut tapi malah kurus dan keling (karena kebanyakan ngider kota hehe), cuaca saat itu di Vienna gak terlalu dingin, so bisa pake T-shirt saja, sementara matahari cukup rajin bersinar….walhasil, keling lah ini muka dan badan!

Vienna tetap tempat favorite untuk dikunjungin karena aku suka suasana kotanya, perbukitannya yang hijau dan juga aku ngerasa rileks aja ada di kota ini, mungkin suatu saat nanti aku akan berkunjung lagi, tapi ahhh entah kapan, mungkin lain kali…

Facts:
Country: Austria
Capital: Vienna
Currency: Euro
Distant from Netherland:
936.44 km (7 or 8 hours by bus and 5 hours by train)

Monday, September 22, 2008

Berlin in a blink, dari kacamata minus 2 nya Wiwik

I was cleaning my hard drive the other night and found some old pictures I took in Berlin few years ago. Jadi terinspirasi untuk cerita tentang kota ini yang banyak menyimpan kenangan perang dunia II.

Sejauh yang aku ingat, Berlin itu kota yang “dingin”, gak tau kenapa, mungkin karena beberapa kali aku harus melewati beberapa bekas CONCENTRATION CAMP yang dipakai Nazi di masa lalu.
Kesan pertama saat memasuki kota itu adalah, dingin, kaku dan gloomy aura…

Around Berlin, you can still witness bangunan-bangunan yang setengah rusak dan hancur sisa-sisa perang dunia II, ku pikir mungkin pemerintah German memang menjadikan itu “war memorial” untuk mengenang kekejaman perang dunia II.

One of them is a church called Kaiser Wilhem Gednächtniskirche (hehe, masih inget yaaa….ada catetannya sih di journal dulu…scara dulu mah belum mengenal blog, jadi kalo mo bikin journal masih tradisional, pake note book or diary…ttsssaahhhh)


Puncak gereja itu dibom waktu perang, dan separuh bangunan gereja hancur, dan sekarang pemerintah kota sana ngebiarin begitu saja dan menjadikan itu monument, walo gerejanya gak digunakan lagi. Gereja itu letaknya tidak jauh dari KaDeWe, the 2nd biggest shopping store in Europe

Siapa sih yang gak familiar dengan kata tembok Berlin atau Berlin wall? Duluuuuu banget waktu masih sekolah, ketika pelajaran sejarah, dalam bayanganku tembok Berlin adalah tembok yang setinggi alaihim yang spooky dan menyeramkan

Tapi sekarang tembok itu terlihat lebih cantik, some of the wall has been painted with various messages, providing reflection on the past, the future and what the Wall is represents, tapi dah banyak juga yang rusak sih, karena banyak yang nyongkelin buat dijadikan suvenir....ada2 aja yaah!

Check Point Charlie namanya, sebuah pos perbatasan dimana tank pasukan Amerika dan Soviet bertemu kala itu. Pos jaga kecil yang sangat terkenal (karena sejarahnya itu tadi) dan sekarang lokasinya ada di tengah-tengah jalan. Jaman sekarang, kita harus bayar 2 euro untuk bisa foto di area ini (bareng ama actor yang berseragam pasukan Amerika dan Soviet)…interesting huh, how history bisa jadi duit hehe


Ada lagi rumah tempat meetingnya Hitler dan Stalin (kalo gak salah), letaknya di tepi sebuah danau….lupa euy namanya, aniwe…masuk ke rumah ini (sekarang dijadikin museum), spooky banget…merinding gitu loh

Tak kalah menarik untuk dilihat juga pastinya adalah Brandenburg Gate, ahhh...gak banyak cerita soal gate itu (so Berlin gitu loh!!), cuma 2 kata saja….been there!

Eh, enough about the war memorial, banyak hal lagi yang unik dari kota ini, salah satu yang paling aku suka adalah traffic light. Bukan hanya berupa tanda lampu merah, kuning dan hijau, tapi gambar lampunya adalah seorang laki-laki bertopi, sebuah design lelaki bertopi yang diberi nama Ampelmännchen …duh gimana yaa mendescripsikannya, lihat aja deh fotonya.

Berlin menyimpan banyak bukti sejarah seputar perang, Nazi, atau hollocust, dan knowing that membuat hati ini bersyukur aja karena aku belum ada di era perang, dimana orang saling bunuh, saling bantai...ihh, astagfirullah. Aku sih berharap gak lagi ada perang, apapun bentuknya…tapi can we control that? I guess not…

Jadi, yuks kita MAKE LOVE aja dan NOT WAR…

Monday, July 28, 2008

Favorite Shopping Area - Around the Globe

Germany – Berlin
Coba mampir ke KaDeWe, the second biggest store in Europe, itu bangunan segede alaihim adalah one stop shopping. Coba ke lantai atas and cari itu grocery storenya dan food hall…..alamak, kejunya bermacam ragam jenisnya, for you cheese lover, you should go there!

Malaysia – Central Market
Gue doyan ke tempat ginian nih, karena pernak-pernik khas Malaysia tersedia disini, kalo kata orang harganya agak mahal, tapi kalo kata gue….murah!!! dibandingkan di Singapore (ya iya lah…scara, exchange ratenya beda! Hehe)

Austria – any BILLA store
Gue heran, setiap traveling musti yang dicari adalah grocery store, bakat jadi emak-emak kali yaaa....males aja kalo liat mall yang baju-baju. Di BILLA, everything is in reasonable price, walopun in Euro...yaa, tergolong murah lah dibandingkan tempat lain yang sempat gue datangin. However, nothing is free disini, untuk plastic belanjaan aja loe harus merogoh kantong €0.60, and buat saos sambel kalo elo beli petat (petat itu kentang goreng) loe harus bayar €0.40…..alamak, gituan aja harus bayar.. digratisin nape!

Singapore – Sungai Weng shopping area
Lumayan, harga reasonable, kalo gak penting-penting amat, malas ahhhh shopping di Singapore…..muahal!!

Australia – Myer, or Coles juga oke for grocery shopping
Lumayan ok store, I found a nice looking jacket at Myer with reasonable price, agak muahal tapi masuk akal untuk jaket musim dingin. Karena gak terlalu hunting, jadi gak banyak reference to choose, gak bisa rekomen tempat lainnya di negeri down under ini…

UEA – Bin Dawood
Definitely a must visit store, everything is there! Lengkap, murah dan variatif…..cari teh Arab yaaa nanti

Bandung – Pasar Baru
Surga belanja deh, mo beli eceran atau lusinan, sok mangga! Cape dan haus, silamo ada warung-warung makan yang bersih dan leker untuk dicoba

Mataram – MGM supermarket
Used to be murah, tapi dengan cepatnya harga-harga kebutuhan pokok naik, ahhhh si BBM itu penyebabnya. Aniwe, tempat ini nyaman buat belanja untuk ukuran kota Mataram yang kecil mungil

Kota-kota lainnya sih biasa-biasa aja….oh iya, for the best chocolate (gue bukan penggemar coklat, tapi kok suka aja makan jenis coklat tertentu dari negeri ini hehehe), cari The Chocolate store, di jalan (gue lupa nama jalannya….yeeee, ngapain kasih tau!!) di Bruges……..itu mah yang namanya coklat, asli berasa coklat, gak ada mentega or butternya…kalian yang fanatic coklat tau lah maksud gue!

Tips belanja kali ini (ala Wiwik hiks!):
- Boleh kok lapar mata, karena harga keju dan coklat lebih murah dibandingkan beli di Indo!!
- Kalo mau ngirit, pake hitung menghitung, misalnya loe mau beli barang, pikirkan apakah worth it dibeli dengan harga tertentu yang ketika di kurs ke dalam rupiah akan sangat muahalll....contohnya dalam hal ini kalo loe mau beli accessoris, kalung misalnya or bracellet, nah itu yang perlu dipertimbangkan, kecuali loe emang punya duit lebih tentunya hehe


Wednesday, July 23, 2008

Asia, here I finally come (in shoestring) -- Part Three

Singapore – Malacca – Kuala Lumpur

Sebetulnya Malacca gak ada dalam list itinerary ku, tapi setelah diliat ulang itu peta, kok yaa asyik juga kalo mampir Malacca sebelum terus lanjut ke arah utara yaitu Kuala Lumpur.

Malacca itu kota tua bersejarah yang ada di Malaysia, banyak bangunan jaman dulu kala dan lots of museums.

So, dengan hanya SGD16 untuk bis dan SGD0.90 untuk MRT dari Bugis MRT ke Lavender MRT (SGD1 kan di refund yak!), aku udah ada di bis yang jurusan Singapore – Malacca, naik bisnya di terminal Lavender street (bukan terminal sih, tapi lebih ke lapangan luas yang ada bis-bis berjejer)

Dan seperti yang diduga, bis yang antar kota itu keadaannya bersih, rapi, on time....biar kata cuman ada 11 penumpang untuk bis berkapasitas 25 penumpang, si bis tetap jalan jam 9.00 pagi teng!! Menuju ke Malacca Malaysia yang akan ditempuh dalam waktu 4.5 jam

Sepanjang perjalanan gak banyak yang dilihat, cuma pas mau memasuki perbatasan Singapore Malaysia, banyak pohon kelapa sawit.....jadi wondering sendiri ”ohhh, di sini kali yaa para TKI itu kerja.... weleh-weleh, orang Indo itu banyak jadi buruh banget sih di negeri orang!!”

Nah, hal menarik adalah di batas negara Singapore, antrian panjang bis dengan jurusan Malaysia (Malacca, Johor Baru, Kuala Lumpur, dll) sudah mengantri di gedung imigrasi itu, sebetulnya prosesnya sih gampang, cuman turun dari bis trus nunjukin passport, dan di stamp out dari Singapore......tapi antriannya itu loh boww, sampe 1 jam sendiri

Lewat dari gedung imigrasi itu, kami kembali ke bis masing-masing, pikir ku ”Good bye Singapore, helloow Malaysia!!”.....bacanya pake nada genit yaaa, hehehe maksa!

10 menit berlalu dari perbatasan itu, kita meluncur lagi untuk ke batas negara Malaysia, di gedung ini kita harus turun lagi untuk stamp in negara Malaysia.

Pengalaman yang gak kalah menariknya adalah waktu berhadapan ama petugas imigrasi, aku sengaja ngantri di petugas yang pake kudung, dengan harapan ahhh, sesama berkudung pasti lancar lahhhh....tapi perkiraan aku salah, karena si Puan itu (eh, dah di Malaysia jadi harus pake bahasanya dia) bertanya macam-macam karena mengira aku TKI ngkalee, sampe ngapain ke sini, tiket kembali ke Indo mana.....aku jawab semua pertanyaan itu pake bahasa Inggris logat America ku hahaha.

Bukan maksud sombong pake bahasa Inggris mulu walo mereka pake bahasa Melayu, tapi sumpah!!!! Gue kagak ngarti bahasa Melayu mereka, cape deh berusaha ngerti....ah, sutralah gue hajar aja ini dengan English American gue hehe

Bis berhenti selama 30 menit untuk istirahat di warung makan yang segede alaihim gitu deh, makan sebentar karena dari pagi blum sempat sarapan dari hotel tadi. So I order sama si Puan pemilik kedai soto laksa, rasanya yaaa kayak soto, cuma pake mie kuning....lumayan, isi perut, jajanan tadi plus minum dan soft drink cuman ngabisin RM7.50 (eh, dah pake ringgit Malaysia yaa)...........again, murah!!!

Tiba di Malacca central bus station, dan langsung tancap ke hotel Heritage, agak spooky hotelnya tapi it's ok, the single room is clean and big!

Di Malacca sih cuma masuk keluar museum, ngukur jalan dan wisata kuliner.

Check out hotel di Malacca pagi banget, si petugas hotel yang orang Inggris (ternyata dia backpacker bokek yang kehabisan uang di Malaysia dan bantuin orang hotel biar dapet duit....ihh, ada juga bule bokek yak!)

Bis Metro yg warna merah ini dgn jurusan Malacca ke Kuala Lumpur cuma RM9, plus sarapan wafel di terminal bis hanya RM4.....terminal bis ini bersih, nyaman, ber AC dan bersih deh!!! Perjalanan panjang ini hanya 2.5 jam, sampai pada akhirnya nyampe di terminal bis Pudu Raya Kuala Lumpur.

Dengan bermodalkan peta yang aku print di Indonesia, aku jalan kaki nyari itu hotel yang emang deket dari teminal bis. 10 menit kemudian, nyampe deh di Serai Inn, nice budget hotel, friendly staff, aman dan yang penting bersih!!!

Aku ada di KL selama 5 hari, agak lama emang karena ini pertama kali aku ke KL. Hari-hari diisi dengan ngukur jalan, wisata kuliner, be a local Malaysian deh.. Nyoba segala jenis makanan yang penting halal, mulai dari ayam goreng Malaysia yang rasanya aneh, sampe laksa salmon......yaiksss, namanya aja wisata kuliner.
Tapi makanan yang paling pass di perut gue yaa cuma nasi lemak (alias nasi uduk kalo di Indo) dan nasi ayam Hainan....yang lain, sekedar lewat aja di mulut

Ke KLCC buat hunting pelem lagi, The Hulk dihargai dengan RM11 dan The Happening RM8, karena beda waktunya aja jadi beda harga. Tapi bowww.....nyaman luar biasa nonton di KL, lebih tertib dan scara itu screen lebar banget, sampe berasa kalo si the Hulk itu nempel di muka saking gedenya itu screen!!
Sempat belanja pernak-pernik khas Malaysia di Central Market, yang gak seberapa jauh dari Dataran Merdeka....all you can reach by foot from my hotel!!
The hotel owner, Mr Ko, is very nice. Dia membeberkan di peta, lokasi mana aja yang gue harus datangin selama ada di KL….dengan bermodalkan peta itu, gue keliling deh ke seputar KL, visit the famous skybridge at the Petronas Tower dan juga ke Putrajaya (artificial city, not natural...gak asyik ngeliatnya), tempat kantornya Encik Abdulah Ahmad Badawi.
KL is not bad, murah kotanya, dan very effective transportation system

Kuala Lumpur - Bandung

Back to Indo setelah 2 minggu lebih out of country, Air Asia lagi pesawatnya, tapi gak pake delay...nyampe di Bandung, safe and sound.

Hari-hari diisi dengan istirahat dan cuma belanja di Bandung Super Mall yang kebetulan deket banget ama rumah, sisanya tidur, ternyata melelahkan banget, and baru kerasa di Bandung capenya...

Next question will be, where is the next destination, Wik???

Until then, be happy!!


Asia, here I finally come (in shoestring) -- Part Two

Helloo there, my part two story of my Asia trip, here we go...

BATAM - SINGAPORE

Pertama kali keluar negeri pake Ferry, jarak Batam dan pelabuhan Singapore cuma 1 jam pake ferry. After SGD32.40 (ongkos naik ferry) dan Rp500rb (fiscal lewat laut) later, aku nyampe di Singapore dalam hitungan kedip....(maklum, ini pertama kali ke luar negeri dalam tempo perjalanan yang sangat singkat, biasanya mah selalu lebih dari 4 jam di udara + jetlag)

Ini kedua kalinya aku ada di Singapore. Imigrasi Singapore gak terlalu ribet, mungkin karena salah satu alasannya adalah walopun passport ku baru diperpanjang (masih perawan nek!), tapi passport lama yang attached to it lumayan banyak stamp in and out dari negeri laen....biasanya itu yang jadi pertimbangan gampang atau susahnya di custom. Banyak kan kisah2 orang Indo yang kalo mau masuk ke negara lain itu pake ditanya macam-macam, masih untung kalo gak ditanya soal nenek moyang asal
dari mana....ahhh, cape deh kalo gitu mah!

Pelabuhan ke pusat kota, hanya 20 menit pake taxi yang waktu itu bayarnya cuma SGD16.....eh, lupa...Nana ikut ke Singapore, ngambil cuti sehari, pengen refreshing katanya, jadilah kami berdua berniat hunting pelem di bioskop Singapore.

Hotel tempat kita nginep di daerah Bugis yang berada tepat di depan Bugis Junction (mall gitu loh!) dan hanya 5 menit jalan kaki ke Bugis MRT....very strategic location.....ya iyalah, satu tips buat yang hobi jalan2 murah, untuk inget selalu lokasi dari hotel tempat kita tinggal, pastikan kita tinggal di hotel/hostel yang deket ama public transport terminal........karena itu akan membuat hidup backpacking elo gampang!

Dan yang penting, catat baik-baik nama hotel dan alamat hotelnya, karena pernah kejadian dulu waktu nyari makan malam di Paris, aku nyasar pulang dari restorannya, untung aku sempat ambil name card dari hotel itu waktu check in di reseptionist, dengan modal nekad bahasa Inggris saja dan sama sekali gak ngerti bahasa Prancis, akhirnya aku menemukan 3 ibu-ibu muda yang salah satunya bisa berbahasa Inggris, menunjuk hotel EST tampat aku nginep ada di alamat Boulevard Magenta, distric 4th.....nah ini juga penting kalo loe lagi di Paris, loe harus tau di distric mana itu hotel berada....scara bangunan di kota itu rata-rata ampir sama, Rue xxxx or Rue yyy.....gitu deh!

Aniwe, back to my Asia trip....

Hostel ini ngasih patokan harga SGD40/room/night, lumayan murah melihat lokasinya. Jangan membayangkan hotel fasilitas super ok, prinsip ku nyang penting bisa naro barang dengan aman dan tidur serta punya tempat untuk shalat (ukuran kamar lumayan gede maksudnya!). Tips untuk booking hostel/hotel via internet, perhatikan kamar yang ditawarkan, apakah $$/room/night atau $$/person/night, soalnya rata-rata hotel/hostel di Europe memberlakukan $$/person/night dengan kondisi kamar yang kuecil...

And seperti niat awal emang mau hunting pelem di bioskop, soooo, there is Kungfu Panda sebagai film yang kita tonton bersama, ada juga si Sex and the city, tapi ahhhh karena pengen ketawa2 berdua Nana, so kita nonton pelem Kungfu Panda aja.

First time nonton film di Singapore, untuk tiket yang seharga SGD7, hampir sama lah fasilitas yang diberikan provider bioskopnya, cuman yang bikin kesel itu.....gak ada sopan santun dan aturan dalam nonton, adaaaaaa aja orang lagi asyik nonton, trus nerima telp/HP dengan bahasa Mandarin yang gue juga kagak ngarti ngomong apa, kenceng luar biasa.......saat itu jadi kangen aja suasana nonton di Indo, yang pake warning duluan untuk......SSsstttt, HP tanda coret!


Jadi seharian itu two best friends traveling together....
Pagi harinya, Nana pulang ke Bintan ambil ferry yang sama untuk kemudian langsung kerja (whooaaa, saking deket jaraknya, jadi bisa langsung kerja), sedangkan gue ngukur jalan dong, belanja dan nonton lagi. Kali ini dengan harga yang sama SGD7, gue nonton film Sex and the city yang tanpa sensor, bayangkan sendiri yaa di Singapore mah ternyata pelem-pelem itu gak pernah ada potongan-potongan dari badan sensor film kayak di Indo.

Perjalanan di Singapore aku lanjutin sendirian, I want to be like a local Singaporean, wisata kuliner, naik turun MRT, nyasar salah platform waktu di MRT station dan gitu deh.

Ongkos MRT dari station 1 ke station yang lainnya rata-rata hanya SGD1.90, itupun uang SGD1 bisa di refund lagi……..murah!!! untuk fasilitas yang serba cepat, serba otomatis, bersih, aman dan wangi!!! Satu tips kalo mau pake MRT, pastikan loe tau mau kemana dan berhenti di station mana, misalnya dari Bugis mau ke Mustafa Center, loe harus berhenti di Douby Ghout station trus ganti MRT untuk ke Ferrer park (deket Mustafa center), emang harus ganti kereta, tapi jangan khawatir pindah dan ganti kereta gampang kok, banyak sign board dimana-mana, syaratnya sih cuman 1...loe harus bisa membaca!! Hehe...... dan cuma naik turun tangga, belok dikit, belok lagi, nyampe deh di platform yang jurusan ke Ferrer Park



Asia, here I finally come (in shoestring) -- Part One

Aaargghhh...... setelah beberapa minggu males banget ngetik, akhirnya sempat juga bikin tulisan soal cuti liburan terakhir. Karena ada beberapa kota yang aku datangin, soo...akan aku tulis dalam beberapa bagian aja yaa..

Aku punya waktu 23 hari untuk liburan kemarin, padahal permintaan ke juragan sih cuman 16 hari, tapi dia gak mau punya utang ama aku, jadinya dibablasin semua itu yang 23 hari, banyak kota yang akan aku datangin kali ini, tema perjalanan liburan kali ini adalah "Asia, here I finally come ...(in shoestring)"

But sebelum cerita, just so you know aja kalo Asia adalah benua terakhir yang sebetulnya ingin aku jelajahi, ehhh...karena terinspirasi oleh beberapa teman yang backpacking murah, so akhirnya si Asia aku jabanin juga...so, these are their stories:

JAKARTA
Pesawat Garuda Mataram Jakarta take off tepat pukul 7.00AM, ”perjalanan keliling Asia dimulai dari sini”, pikirku. Tujuan ke Jakarta kali ini adalah nengok Elang (seperti yang tertulis di dalam Asian trip itinerary...hihihi, teutep tertib administrasi biar kata jalan2 juga)

Jakarta, seperti yang kita tau bersama, it’s a metropolitan city. Not much to tell in this city, the only interesting experience was when I visited Elang’s school. Menarik aja melihat anak-anak di sekolah special itu yang namanya Sekolah Sarana, membuat hati trenyuh in one point and bersyukur in other point, and kagum di point yang agak jauh melihat kegigihan dan kesabaran ibunda anak-anak yang special ini.

Subhanallah alhamdullilah, Allah menguji manusia selalu sesuai dengan porsinya. Dan ada moment dimana aku spend time di mesjid Sunda Kelapa, bareng Ria….sekalian curhat, and sharing pengalaman hidup. Aku cuma 3 malam aja di Jakarta, hari Jumatnya, bersiap terbang ke Batam pake Air Asia.

BATAM – BINTAN – TANJUNG PINANG
Perjalanan pertama pake Air Asia, dengan tiket seharga Rp 380rb dari Jakarta, tergolong murah untuk perjalanan ke Batam, I thought…” ahh, what the heck I’ll try this airline, regardless what people said about the delay and etc”

Ternyata orang-orang gak bo’ong, Air Asia Indonesia emang delay…gila-gilaan delaynya, yang jadwal awal adalah jam 10 pagi, sampe akhirnya take off jam 5 sore. Untung aku lagi cuti panjang, jadi gak pake ngedumel dan hanya menikmati aja ke-delay-an ini, ternyata kalo semuanya dibawa enjoy, asyik asyik aja tuh…. Tapi sempat terpikir, apa cuma Air Asia Indonesia yaaa yang jago delay, kalo Air Asia yang lain gimana yaa hhhhmmmmm…….just wondering

Tiba di Bandara Hang Nadim Batam, sudah ditunggu oleh taxi yg udah dipesan oleh Nana, karena pesawat tiba di Batam jam 6 sore, aku dah ketinggaln ferry langsung yang ke Bandar Bentan Telani Bintan (terminal ferry tempat dimana Nana kerja), so alternatif yang ditawarkan Nana, aku harus pake ferry umum yang akan berangkat dari Telaga Pungur ke Tanjung Uban jam 8 malam nanti.

Agak terkejut dan seneng juga ketika tau kalo jenis perahu yang akan aku tumpaning itu sangat kecil, seperti ukuran bis dan muat untuk sekitar 30 orang, kebayang dong di perahu yang seperti itu, aku harus memastikan pintu atau jendela darurat, in case kalo tenggelam karena kelebihan muatan…..hehe, terbiasa hidup dan kerja dengan moto Safety is #1 sih…

Di Tanjung Uban udah dijemput oleh Nana dan temenanya Kiki, so kami -Wiwik Nana dan Kiki- (liat gak persamaan dari nama-nama itu hehe), dinner dulu di warung Selamat Datang yang menyajikan kangkung balacan, gong gong dan juga kepiting saus pedas…yummy luar biasa!

The night and day in Bintan goes by dengan cerita-cerita (ada seorang teman kalo traveling dia tulis di itinerary nya kegiatan ini adalah “crita crita sampe mabok!”)






Thursday, January 24, 2008

Fine Dining

Early this month, I've decided to do something different as part of my 2008 commitment. I went to enjoy the sunset in Senggigi at the best spot that I can think of.

The place is called Café Alberto restaurant and pizzarie, it is about 30 minutes Kijang’s ride from my home. The last time I came here was about 9 years ago, with my very special friend of mine... whoaa, such a long time. The waiter greated me with nice smile as I entered the place, it was about 20 minutes before the sun go down.

I took a chair near the beruga facing the beach,the atmospheare was so warm. There were a couple of people at the restaurant, one of them had this hi-tech camera hangin on his neck... hmm, they want to capture this beautiful sunset, as I whispered to my self.




Not much to say at that time, all I did is enjoying the moment as the sun go down slowly. What a nice feeling having the moment with only me and my self and I enjoying it. On that 20 minutes of time, looking at the sunset, I’m thinking maybe I should do this more often.. maybe bring along some friends to share the wonderful moment, yeaahh maybe I’ll do that again next time.

The waiter came with the menu on her hand, offered me something to drink and what I wanted to eat for dinner. Soowww, with a lot of excitement, I ordered tomato salad (with mozzarella on top) as appetizer and some lime squash with it.

The taste was amazing, fresh tomato, fresh basil leave and mozzarella were surely delicious.

Then as main course I had ravioli di spinachi special, it is a home made ravioli with spinach and cheese inside, hmm yummy. And since it is an Italian restaurant, so I ordered one of my favorite Italian food.. pizza. The pizza called Tropicana pizza, it has beef, garlic and pineapple as topping.

The restaurant it's not the least expensive, but the standard is very good.


It's worth a visit.